DJ%20Jiez
News Update :
KeluarJangan Lupa Klik Like Dan Follow ya!

Dapatkan info terbaru via Facebook. Silahkan klik LIKE / SUKA.

Powered By Blogger Widgets and Blogger Tutorials

Lagu

Radio Box

Free Shoutcast HostingRadio Stream Hosting

F.U.N Radio Player

Free Shoutcast HostingRadio Stream Hosting

Pengikut

Tampilkan postingan dengan label Information Football Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Information Football Sharing. Tampilkan semua postingan

Ukraina VS Inggris (Reuters/Felix Ordonez)

Kamis, 21 Juni 2012

"Gol Hantu" Ukraina Buka Memori Kelam Inggris
FIFA sedang merancang alat yang bisa menghentikan kejadian ini.
Rabu, 20 Juni 2012, 10:27 WIB
Marco Tampubolon
FIFA sedang merancang alat yang bisa menghentikan kejadian ini.
Ukraina VS Inggris (Reuters/Felix Ordonez)

VIVAbola - Pelatih Ukraina, Oleg Blokhin tidak habis pikir dengan keputusan wasit yang tidak mengesahkan gol Marco Devic ke gawang Inggris pada penyisihan Grup D Piala Eropa, dini hari tadi. Menurutnya, bola telah setengah meter melewati garis gawang.

"Apa yang bisa saya katakan. Ada lima wasit yang bertugas di lapangan dan bola telah setengah meter melewati garis," kata Blokhin kepada wartawan dengan nada tinggi. "Devic mencetak gol dan saya tidak tahu kenapa itu tidak disahkan," sambungnya.

Ukraina harus tersingkir dari Piala Eropa 2012 setelah kalah 0-1 dari Inggris pada laga terakhir penyisihan Grup D. Gol tunggal kemenangan Three Lions dicetak oleh Wayne Rooney pada menit 48.

Tuan rumah Ukraina sebenarnya punya peluang untuk menyamakan kedudukan pada menit ke-62 lewat tendangan melengkung Marco Devic yang berhasil memperdayai kiper Joe Hart. Namun, sebelum bola menyentuh tanah, bek Inggris, John Terry sukses menghalaunya.

Wasit tidak menganggapnya sebagai sebuah gol. Namun, menurut Blokhin, bola telah melewati garis gawang. Tayangan ulang juga menunjukkan hal yang sama. Blokhin berang karena posisi wasit keempat berada hanya beberapa meter dari lokasi kejadian.

Insiden seperti ini sebenarnya bukan hal yang baru di dunia sepakbola. Di pentas Piala Dunia sekalipun, kejadian yang dialami Ukraina juga pernah menimpa negara lainnya. Dan seperti dilansir theage, timnas Inggris adalah salah satu korbannya.

Inggris mengalami hal yang sama di babak 16 besar Piala Dunia 2010. Saat bertemu Jerman, wasit tidak mengesahkan gol Frank Lampard. Kala itu bola yang memantul dari mistar gawang telah mendarat di belakang garis sebelum dihalau kiper Manuel Neuer.

Saat insiden terjadi, Inggris masih tertinggal 1-2 dari Jerman. Pertandingan akhirnya dimenangkan Jerman dengan skor 4-1.

Insiden yang juga dikenal dengan istilah ghost goal alias gol hantu ini juga pernah mewarnai jalannya final Piala Dunia 1966 yang mempertemukan Inggris dan Jerman Barat. Bedanya, saat itu hakim garis asal Azerbaijan, Tofik Bakhramov mengesahkan gol striker Inggris, Geoff Hurst meski belum melewati garis gawang. Inggris pun akhirnya menang dengan skor 4-2 lewat perpanjangan waktu setelah sepanjang 90 menit ditahan Jerman Barat dengan skor 2-2.

FIFA sebenarnya sedang merancang alat untuk menghindari kejadian-kejadian seperti ini. Bulan lalu, FIFA mencoba teknologi Hawkeye pada pertandingan persahabatan Inggris melawan Belgia.

Hawkeye merupakan alat yang biasa digunakan pada olahraga tenis lapangan. Sedangkan satu alat lainnya yang sedang diuji coba adalah GoalRef. Teknologi ini telah dicoba pada dua laga Liga Denmark. Meski demikian, belum satu pun alat yang disahkan FIFA.

Inggris merupakan negara yang paling getol memperjuangkan teknologi goal line ini. Namun, The Three Lions sepertinya harus bersyukur karena teknologi ini belum diterapkan pada Piala Eropa 2012. Bila sudah resmi digunakan, bukan tidak mungkin pasukan Roy Hodgson bakal gagal melaju ke babak perempat final. (one)

Keprihatinan & Kepikunan PSSI Di Usia Ke-82 GOAL.com

Minggu, 22 April 2012


82 tahun. Rentang waktu itu tidak sedikit bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Di usia ke-82, tentunya kemampuan manusia akan makin menurun, baik dari segi fisik maupun berpikir. Tidak sedikit manusia yang sudah mencapai usia tersebut berubah menjadi pikun.

Kondisi berbeda dialami sebuah organisasi. Dalam rentang puluhan tahun, sebuah organisasi silih berganti diisi berbagai macam manusia. Di tangan manusia itu lah sebuah organisasi bisa mencapai kejayaan, dan juga bisa mengalami keterpurukan.

Perjalanan selama 82 tahun juga kini dirasakan PSSI. Otoritas sepakbola nasional ini ketika awal berdirinya ditujukan untuk mempersatukan bangsa. Setidaknya itu menjadi cita-cita Ir Soeratin Sosrosoegondo, tokoh yang mendirikan PSSI.

Seiring berjalannya waktu, dan perkembangan zaman, tujuan itu mulai diiringi dengan usaha memprofesionalismekan dan mengindustrialisasikan sepakbola di tanah air. Upaya itu bisa dilihat sejak 12 tahun terakhir.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Penurunan prestasi dan manajemen PSSI mengarah ke titik nadir. Tahun lalu, kebencian publik sepakbola Indonesia terhadap kepemimpinan Nurdin Halid memuncak, dan akhirnya ketua umum yang menjabat selama delapan tahun itu berhasil dilengserkan.

Publik sepakbola nasional merasa geram dengan kepemimpinan Nurdin. Hal itu tak lepas dari berbabagi keputusan kontroversial, serta status Nurdin yang mengendalikan PSSI dari balik jeruji.

Djohar Arifin Husein pun selanjutnya menjadi harapan bagi persepakbolaan nasional untuk memperbaiki diri, baik dari segi prestasi mau pun manajemen, saat terpilih menjadi ketua umum pada 9 Juli 2011 di kongres luar biasa (KLB) di Solo yang penuh liku dan intrik dalam prosesnya. Djohar pun berusaha mewujudkan itu di bawah kepemimpinannya.

“Semangat Soeratin ini kami perlukan,” demikian pernyataan Djohar dalam sambutannya ketika menggelar syukuran memperingati HUT ke-82 PSSI kemarin.

“Semoga ilmu yang dimiliki bapak Soeratin bisa diturunkan kepada kita untuk membangun PSSI yang lebih baik lagi ke depannya,” ujar ketua umum PSSI-KPSI La Nyalla Mattalitti, ketika datang ke makam Soeratin

Namun kenyataan yang terjadi sesungguhnya sama sekali tidak terlihat. Setelah kompetisi terbagi dua untuk kedua kalinya dengan adanya Liga Prima Indonesia (IPL) dan Superliga Indonesia (ISL), di era ini juga ada dua organisasi. FIFA sudah alergi dengan adanya dua kompetisi, apalagi dengan hadirnya dua organisasi serupa di satu negara. Kondisi ini pun menjalar ke arah grassroot yang ikut terbelah dua.

Kekisruhan berawal dengan penambahan jumlah peserta kompetisi di kasta tertinggi menjadi 24 tim. Penambahan itu mungkin bisa saja diterima bila dilakukan secara tepat. Tapi Djohar justru memasukkan enam tim, tiga diantaranya bermasalah, dan tiga lainnya dikatrol dengan alasan yang tak logis dari sebuah piramida kompetisi.

Terpecahnya kompetisi pun berimbas kepada lahirnya sebuah organisasi tandingan yang juga menamakan diri sebagai PSSI hasil kongres luar biasa (KLB) di Ancol pada 18 Maret 2012. Masing-masing kubu merasa diri mereka yang paling berhak sebagai pengelola sepakbola di tanah air.

Ironisnya, masyarakat tidak lagi hanya disajikan permainan sepakbola di atas lapangan hijau, tapi juga di meja hijau. Pembentukan klub-klub di kasta tertinggi membuat yang tersakiti menempuh jalur hukum.

Selain kasus Persija Jakarta yang masih berlangsung di pengadilan negeri Jakarta Timur, permasalahan Persipura Jayapura juga mencuat ke permukaan. PSSI mengebiri hak Persipura sebagai juara tahun lalu untuk tampil di Liga Champions Asia (LCA) 2012, dan berusaha menggantikannya dengan klub yang menurut kepada mereka.

Permasalahaan ini mendapat sorotan internasional, karena Persipura mengajukan gugatan kepada pengadilan arbitrase olahraga internasional (CAS). Tim Mutiara Hitam pun akhirnya berhak tampil di play-off LCA menghadapi Adelaide United setelah CAS mengabulkan permohonoan tim Mutiara Hitam.

Situasi ini berimbas kepada prestasi tim nasional. Pada final cabang sepakbola SEA Games 2011, 21 November lalu, ketika Indonesia menjadi tuan rumah, timnas U-23 hanya mampu meraih medali perak setelah dikalahkan Malaysia.

Di ajang lebih tinggi, timnas senior mengalami hasil terburuk sepanjang keikutsertaan di kualifikasi Piala Dunia. Sebuah rekor terpecahkan saat Indonesia dibantai Bahrain sepuluh gol tanpa balas di laga terakhir Grup E kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia. Genap sudah timnas tidak mendapatkan satu angka pun di ajang tersebut. PSSI saat itu tidak memanggil pemain yang tampil di ISL, dan hanya menurunkan pemain muda dari kompetisi IPL.

Situasi makin diperparah dengan pernyataan FIFA yang ingin melakukan investigasi terhadap hasil pertandingan. Tidak hanya kemungkinan Bahrain bermain dalam upaya mereka lolos ke putaran final, tapi alasan PSSI yang menurunkan tim lemah di laga menentukan itu.

Keterpurukan tidak hanya berhenti sampai di situ. PSSI kembali ditohok dengan kekalahan timnas U-21 dari Brunei Darussalam di final turnamen Piala Hassanal Bolkiah. PSSI juga tidak menyertakan pemain dari kompetisi ISL yang dianggap sebagai breakaway league.

PSSI pun makin diharapkan bisa bangkit tidak hanya dari segi prestasi, tapi juga manajemen. Tentunya pecinta sepakbola nasional berharap agar diusia ke-82 tahun PSSI makin membaik, bukan bertambah pikun dengan melupakan apa yang menjadi cita-cita Soeratin.

“Saya ingin agar PSSI dapat menjaga sepakbola Indonesia tetap bersatu, karena itu merupakan tujuan dibentukan PSSI oleh eyang kami. Saat itu, beliau bisa mempersatukan pemuda-pemudi Indonesia, kenapa sekarang tidak bisa,” kata Wuly Soekartono, cucu Soeratin.

Arjen Robben-Franck Ribery Ribut Saat Jeda


Arjen Robben dan Franck Ribery hampir adu jotos di ruang ganti Allianz Arena pada semi-final Liga Champions, Selasa (17/4) lalu, demikian Bild.

Persoalan yang menyebabkan perselisihan dua bintang Bayern Munich itu adalah masalah penentuan eksekutor tendangan bebas melawan Real Madrid. Di babak pertama, Bayern memperoleh tendangan bebas dengan posisi menguntungkan. Ribery sudah siap mengambilnya, tetapi Robben berpendapat Ribery bukan orang yang tepat sehingga tendangan diambil oleh Toni Kroos.

Insiden itu rupanya mengganjal hati Ribery. Saat jeda, Ribery berargumen dengan Robben dan perdebatan memanas sehingga harus dilerai oleh rekan-rekan setim supaya keadaan tidak menjadi lebih memalukan.

Belum ada tanggapan resmi dari klub maupun pelatih Jupp Heynckes tentang insiden ini. Bayern sendiri berhasil memenangkan laga 2-1 berkat gol Mario Gomez di pengujung laga.

Signature

Tertanda,
Dewanji Wilajayangga

Jiez Share Comunity - Sharing Is Fun
Perum Situ gede
Jalan Anggrek Blok B-263
085223462560
dewanji_tsm@yahoo.com
http://jiez-ultimate.blogspot.com

IP Cheker

Sign by Danasoft - Get Your Sign

Mengenai Saya

Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia

Powered by : Jiez Share
close
 

© Copyright Jiez Share | Ultimate Sharing System 2010 | Design by Dewanji Wilajayangga | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.